JAKARTA, JUMAT - Dalam segala kegiatannya, manusia hampir selalu menghasilkan sampah. Ini menjadi pemicu meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca (GRK).
Sampah mempunyai kontribusi besar untuk emisi GRK yaitu gas metan (CH4). Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kilogram gas metana. Sementara, kontribusi emisi GRK dari sektor kehutanan dan energi juga besar.
Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, diperkirakan pada 2020 sampah yang dihasilkan per hari sekitar 500 juta kilogram per hari atau 190 ribu ton per tahun. Ini berarti pada tahun tersebut Indonesia akan mengemisikan gas metana ke atmosfer sebesar 9500 ton.
Data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengatakan pada 1995 rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah 0,8 kg per hari. JUmlah ini terus meningkat hingga 1 kg per orang per hari pada 2000. Diperkirakan timbunan sampah pada 2020 untuk tiap orang per hari adalah sebesar 2,1 kg.
Masih menurut KLH, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah adalah sumber antropogenik metan dan memberikan kontribusi secara global sebesar 20-60 kilogram metan per tahun.
Sementara itu, jumlah metan yang diemisikan oleh negara maju dan negara berkembang berbeda. Secara global kira-kira 66 persen emisi metan dari TPA berasal dari negara-negara maju, 15 persen dari negara-negara transisi secara ekonomi, dan 20 persen dari negara-negara berkembang.
Nabila's personal homepage, Welcome I hope you can enjoy with everything I've presented on this site, such as MIDI MUSIC collection of Indonesian songs, IMAGE Collection, BACKGROUND Collection, COOKING Collection of Indonesia, ARTICLE Collection, GALLERY Collection, CARTOON Collection, LINK Favourite etc. If you have any comments, suggestions, or opinion about this site, please express it send to my email. Thank you very much for visiting my site, please visit us often.
Showing posts with label Info. Show all posts
Showing posts with label Info. Show all posts
Wednesday, March 19, 2008
Sunday, March 09, 2008
Nusa Penida dan Pecatu adalah Benteng Penyelamat Pulau Bali

Bagaimana jadinya jika Bali tidak memiliki Pulau Nusa Penida dan gugusan pulau karangnya serta karang tinggi Pecatu di Bali selatan. Ke-dua kawasan ini yang menangkal serangan gelombang Samudera Indonesia sehingga Bali daratan ini selamat. Makanya wajar jika Nusa Penida dan Pecatu dikatakan sebagai tembok yang mebentengi pulau Bali. Namun sayang eksploitasi hutan dan batu kapur di kawasan ini makin mengkhawatirkan saja.
PADA pertemuan Perubahan Iklim (UNCCC) terungkap bahwa pemerintah pusat akan melakukan kerja sama terpadu dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung dan Bali untuk menjadikan Nusa Penida sebagai proyek percontohan penyelamatan pulau-pulau kecil di Indonesia. Hal itu guna mendapatkan strategi penyelamatan 62 pulau di Indonesia yang kondisinya terancam.
Kaitan dengan itu, masyarakat dan Pemkab Klungkung, khususnya masyarakat Nusa Penida tentu sangat mendukung program tersebut.
Sejauh ini, Pulau Nusa Penida juga dikenal sebagai pulau penyangga ancaman gelombang pasang yang menerjang sejumlah pesisir pantai di Bali.
Tentu saja, dukungan masyarakat yang diperlukan tidak semata ucapan. melainkan pelaksanaan secara riil di lapangan. Di antaranya dalam bentuk penyelamatan lingkungan.
Saat ini saja, tercatat ratusan hektar hutan lindung di kawasan Tanglad, Nusa Penida sudah terjarah oleh tangan usil masyarakat. Masyarakat merambah hutan untuk kepentingan mencari pakan ternak. Dengan melakukan pembakaran hutan untuk tujuan memunculkan daun hijau baru pascapembakaran yang sangat cocok untuk pakan ternak (sapi). "Kebanyakan hutan lindung rusak akibat pembakaran oleh masyarakat," ungkap tokoh masyarakat Nusa Penida, Wayan Sukasta.
Menurut anggota Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Propinsi Bali itu, di sinilah pentingnya peran serta untuk ikut menyelamatkan kembali hutan lindung yang sudah terjarah ulah usil manusia. Dengan melakukan pendekatan persuasif dan melakukan penanaman kembali.
Dia sedikit bersyukur, karena belakangan ini di Nusa Penida telah dilakukan penanaman pohon untuk memproduksi O2 melalui Gerhan. Secara informal, masyarakat juga melakukan penanamn hutan rakyat secara swadaya.
Terlepas dari itu semua, Nusa Penida harus memiliki peta tata ruang dan rencana detail yang jelas. Yang paling penting adalah kejelasan tata ruang. Saat ini, kata dia, kejelasan tata ruang dan rencana detail serta tata bangunan itu masih saling tunggu". Padahal, saat ini Nusa Penida sudah mulai berkembang pascaberoperasinya kapal feri roro Nusa Jaya Abadi," tambahnya.
Sekda Klungkung, Ketut Janapria, mengungkapkan saat ini RDTR Nusa Penida sudah tersusun. Hanya, belum finis karena masih harus dilakukan pembenahan-pembenahan. Diakuinya, saat ini memang sudah banyak terjadi kerusakan lingkungan di Nusa Penida. Hutan-hutan harus kembali dikonservasi namun ia belum bisa memastikan daerah-daerah mana saja yang nantinya diplot untuk kepentingan kawasan lindung, budi daya, pemukiman dan lainnya.
Badung Selatan
Sementara itu, politisi asal Jimbaran yang juga Sekretaris Komisi B DPRD Badung Ir. I Wayan Sudiana, MBA, Sabtu (15/12) kemarin, mengatakan kerusakan alam di wilayah Badung Selatan sangat memprihatinkan. Alam terlihat compang-camping akibat penambangan kapur/limestone, banyaknya pembangunan vila yang mencaplok lahan jalur hijau, persoalan sampah, limbah, perumahan kumuh dan sebagainya. Sementara langkah penyelamatan lingkungan belum dilaksanakan secara optimal.
Kerusakan alam akibat eksploitasi ini perlu mendapat perhatian serius. "Ini juga salah satu bukti pembangunan di Badung Selatan tidak memiliki konsep baik," kata lelaki yang juga menjadi Ketua Tim Pansus RTRW itu.
Menurutnya, setiap pembangunan harus direncanakan dengan baik. Pelaksanaannya juga harus didukung penerapan aturan.
Dia mempertanyakan komitmen Pemkab Badung untuk menjaga lingkungan melalui mekanisme regulasi. Satu contoh, penataan lahan penambangan batu kapur di kawasan Ungasan, Kutuh, dan Jimbaran. "Kalau memang benar penataan mengapa hasilnya adalah perusakan? Bagaimana regulasi diterapkan di sana," ujarnya.
Lelaki berkumis itu mengingatkan semua pihak, khususnya pihak Pemkab Badung benar-benar berorientasi pada pelestarian lingkungan. Pengembangan suatu kawasan harus disesuaikan dengan potensi wilayah tersebut. Makanya ia meminta hentikan ekspolitasi, perbaiki drainase, dan jangan biarkan industri berat seperti aspal dan beton.
Sementara itu, pengamat lingkungan dari Forum Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Pesisir Bali I Gede Arthika mengatakan daya dukung hayati Badung Selatan hanya tinggal 40%. Terumbu karang mati. Pencemaran terjadi di mana-mana karena kawasan hulu tidak dijaga dengan baik. Karena itu, dia berharap pemerintah membuat kebijakan yang benar-benar berpihak pada lingkungan. Salah satunya pencemar lingkungan harus diberi sanksi berat. Jangan dibiarkan.
(Sumber: BaliPost)
Friday, March 10, 2006
Browser Pilihan yang Brilian
Ada info menarik dari http://www.pintunet.com tentang Moozilla Firefox yang isinya:
Saat ini dunia teknologi informasi mulai ramai dan sudah merambah ke segenap pelosok negeri kita. Penggunaan komputer, perlahan tapi pasti mulai meningkat dari tahun ke tahun.
Salah satu tujuan orang memiliki komputer adalah untuk bisa browsing atau menjelajahi dunia maya bernama Internet. Dan biasanya orang awan yang baru melek internet lansung memilih IE untuk web Browsernya. Maklum karena brand intu biasanya sudah integrated di dalam Operating Systemnya. Tapi begitu mereka memakai dan tahu bagaimana kekurangannya dari IE ( mudah di susupi Virus, sering hang dll), mereka pun pasti berpikir dua kali untuk memakainya kembali.
Alternatif pilihan untuk mengganti browser pun pasti jatuh ke Moozilla Firefox, karena browser ini memiliki beberapa kelebihan dan kehandalan yang lebih baik dari IE. Celah yang aman dan tidak mudah terserang virus, menu yang user fiendly, cepat dan praktis membuat firefox menjadi browser favorit sekarang ini
So,tunggu apa lagi. Silahkan beralaih ke browser paling aman, cepat dan mempunyai fitur lengkap. Selamat datang Era Mozzila Firefox.
Download Mozzila Firefox
Subscribe to:
Posts (Atom)